Surabaya – Aula SMAN 9 Surabaya pagi itu terasa berbeda. Ratusan siswa kelas X tampak serius sekaligus antusias mengikat kain, mencelup warna, lalu menunggu hasil motif Shibori yang perlahan muncul. Sekitar 360 siswa dari 10 kelas terlibat dalam pelatihan seni tekstil tersebut, bersama puluhan guru dan anggota Dharma Wanita.
Kegiatan ini tidak sekadar menghadirkan praktik seni, tetapi juga menjadi ruang belajar bersama yang cair dan penuh interaksi. Hasil karya berupa kain Shibori berukuran taplak meja dinilai secara berkelompok, dengan indikator penilaian meliputi kualitas produk, proses pengerjaan, keaktifan, serta kerja sama tim.
“Penilaiannya tidak individu, tapi kelompok. Jadi yang dinilai itu proses, kerja sama, dan keaktifannya juga,” ujar Arin, guru pendamping kegiatan.
Pemilihan tema Shibori, menurut Arin, memiliki makna lebih dari sekadar pembelajaran seni dan kewirausahaan. Melalui teknik pewarnaan asal Jepang itu, siswa diajak berdialog dengan budaya lain, tanpa melupakan batik sebagai warisan lokal yang harus tetap dijaga.
“Ini cara agar anak-anak tetap mengenal dan menjaga kearifan lokal, tapi dengan cara yang lebih kekinian,” jelasnya.
Lebih dari hasil karya, praktik bersama tersebut dinilai menjadi sarana penting untuk membangun kedekatan antara guru dan murid. Di luar suasana kelas yang formal, interaksi langsung selama proses berkarya membuka ruang komunikasi yang lebih hangat.
“Kegiatan seperti ini bisa mendekatkan murid dengan guru, karena ada interaksi langsung, bukan hanya belajar di kelas,” kata Arin.
Ia berharap pembelajaran kontekstual melalui praktik nyata dapat membantu siswa memahami materi secara lebih utuh, sekaligus menumbuhkan rasa kebersamaan di lingkungan sekolah. “Anak-anak tidak hanya belajar teori, tapi juga praktik yang dekat dengan realitas sehari-hari,” ujarnya.
Apresiasi datang dari Pelaksana Harian Komite SMAN 9 Surabaya sekaligus Ketua Komnas Perlindungan Anak Surabaya, Syaiful Bachri. Menurutnya, kegiatan tersebut mencerminkan sinergi saling asih, asah, dan asuh dalam pendidikan.
“Kegiatan ini menepis anggapan adanya jarak antara guru dan siswa. Justru yang terlihat adalah kebersamaan,” ucapnya.
Syaiful mendorong agar kegiatan bertema Mengikat Warna, Merajut Kebersamaan ini terus dikembangkan sebagai bagian dari penguatan kurikulum deep learning, baik melalui kegiatan intrakurikuler, ekstrakurikuler, maupun kokurikuler.
Kegiatan ini juga dihadiri Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Sidoarjo, Dr. Kiswanto, S.Pd., M.Pd. Ia mengingatkan pentingnya peran guru sebagai teladan utama sekaligus penguat karakter siswa.
“Sekolah tidak hanya unggul dalam angka akademik, tetapi juga dalam kekeluargaan dan budi pekerti,” ujarnya.
Menurut Kiswanto, jika kolaborasi dan karakter sudah tumbuh kuat, SMAN 9 Surabaya berpeluang menjadi sekolah yang bukan hanya berprestasi, tetapi juga dicintai masyarakat.